Peran Lembaga Adat Dan Badan Syara Dalam Manajemen Dakwah Desa Di Lamakera, NTT

Muhammad Amin Saputra* -  UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia

Abstract


Penelitian ini membahas peran lembaga adat dan Badan Syara dalam pengelolaan urusan keagamaan serta manajemen dakwah di masyarakat Lamakera, dengan menyoroti otoritas religius yang dimiliki oleh Suku Sinun Onang. Badan Syara berfungsi sebagai lembaga religius yang memiliki kewenangan eksklusif untuk menetapkan imam, khatib, muazin, bilal, mengatur tata ibadah, dan mengkoordinasikan pengurusan jenazah, sementara lembaga adat berperan menjaga legitimasi sosial, menegakkan nilai tradisi, serta melibatkan suku-suku lain melalui masukan dan saran dalam musyawarah adat. Otoritas religius Suku Sinun Onang memberikan legitimasi yang sah bagi Badan Syara, sehingga pengambilan keputusan keagamaan diakui dan dihormati secara kolektif. Dalam praktik kelembagaannya, integrasi antara lembaga adat dan Badan Syara menciptakan sistem manajemen dakwah desa yang terstruktur dan konsisten, menjamin kontinuitas praktik keagamaan, memperkuat stabilitas sosial, dan memelihara harmonisasi komunitas. Studi ini menunjukkan bahwa keberadaan otoritas religius berbasis suku Sinun Onang menjadi kunci dalam efektivitas lembaga adat dan Badan Syara dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Lamakera.

Keywords


Lembaga Adat, Badan Syara, Otoritas Religius, Lamakera

Full Text:

PDF

References


Ade Nurdin & Riswan (Ed.). (2018). Membumikan Islam: Keluasan dan keluwesan syariat Islam untuk manusia. Mizan Pustaka.

Barnes, R. H. (1986). Educated Fishermen, social consequences of development in an Indonesian whaling community. Bulletin de l’Ecole Française d’Extrême-Orient, 75(1), 295–314. https://doi.org/10.3406/befeo.1986.1711

Barnes, R. H. (1996). Lamakera, Solor. Ethnographic Notes on a Muslim Whaling Village of Eastern Indonesia. : : Anthropos Institut, 75–88.

Geertz, C. (1976). The religion of Java. University of Chicago press.

Levinson, D., O’Leary, T. J., Hays, T. E., Hockings, P., Bennett, L. A., Friedrich, P., Diamond, N., Wilbert, J., Dow, J., Middleton, J., Rassam, A., & Gale (Firm) (Ed.). (1991). Encyclopedia of world cultures. G.K. Hall & Co.

R. H. Barnes. (1995). Lamakera, Solor. Ethnohistory of a Muslim Whaling Village of Eastern Indonesia.

Sigit Sapto Nugroho, Hilman Syahrial Haq, & Anik Tri Haryani. (2020). Pengantar Hukum Indonesia. Penerbit Lakeisha.

Soepomo R. (2000). Bab-Bab Tentang Hukum Adat. Pradnya Paramita.

Sokolovskii, S. V. (1995). Ethnographic Research: Ideals and Reality. Anthropology & Archeology of Eurasia, 34(2), 5–38. https://doi.org/10.2753/AAE1061-195934025

Umar Ibnu Alkhatab. (2018). Ikhtiar Menggali Identitas Lokal: Pengalaman Muslim Lamakera (Philipus Tule, Fredrik Doeka, & Ahmad Atang, Ed.). Universitas Khatolik Widya Mandira.

Vollenhoven, C. van, & Vollenhoven, C. van. (1987). Penemuan Hukum Adat (Cet. 2). Djambatan.

Weber, M., Roth, G., & Wittich, C. (1978). Economy and society: An outline of interpretative sociology. University of California press.




DOI: https://doi.org/10.24952/tadbir.v8i1.19414

Refbacks

  • There are currently no refbacks.